Friday, June 12, 2015

ulil amri

Kewajiban Menaati Ulil Amri

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih tentang suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu adalah yang terbaik untuk kalian dan paling bagus dampaknya.” (QS. an-Nisaa’: 59)
Ayat yang mulia ini mengandung pelajaran:
  1. Terdapat perbedaan penafsiran mengenai makna ulil amri. Abu Hurairahradhiyallahu’anhu sebagaima diriwayatkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari dengan sanad sahih, beliau berkata, “Mereka -yaitu ulil amri- adalah para pemimpin/pemerintah.”Penafsiran serupa juga diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dan yang lainnya. Sedangkan Jabir bin Abdullah berkata bahwa mereka itu adalah para ulama dan pemilik kebaikan. Mujahid, Atha’, al-Hasan, dan Abul Aliyah mengatakan bahwa yang dimaksud adalah para ulama. Mujahid juga mengatakan bahwa yang dimaksudkan adalah para sahabat. Pendapat yang dikuatkan oleh Imam asy-Syafi’i adalah pendapat pertama, yaitu maksud ulil amri adalah para pemimpin/pemerintah (lihat Fath al-Bari[8/106] pdf). Oleh sebab itu an-Nawawi rahimahullah membuat judul bab untuk hadits Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma mengenai tafsir ayat ini dengan judul‘Kewajiban taat kepada pemerintah selama bukan dalam kemaksiatan dan diharamkannya hal itu dalam perbuatan maksiat’. Kemudian beliau menukilkan ijma’/konsensus para ulama tentang wajibnya hal itu (lihat Syarh Muslim[6/467]). Adapun pendapat yang dikuatkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kandungan ayat ini mencakup kedua kelompok tersebut; yaitu ulama maupun umara/pemerintah. Dikarenakan kedua penafsiran ini sama-sama terbukti sahih dari para sahabat (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [2/235 dan 238] pdf)
  2. Wajibnya menaati pemerintah muslim selama bukan dalam rangka maksiat. Hal ini sebagaimana telah ditegaskan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau bersabda, “Wajib atasmu untuk mendengar dan taat, dalam kondisi susah maupun mudah, dalam keadaan semangat ataupun dalam keadaan tidak menyenangkan, atau bahkan ketika mereka itu lebih mengutamakan kepentingan diri mereka di atas kepentinganmu.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/469])
  3. Ketaatan kepada pemerintah muslim ini dibatasi dalam hal ketaatan/perkara ma’ruf saja, sedangkan dalam perkara maksiat maka tidak diperbolehkan. Hal ini berdasarkan hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wajib atas setiap individu muslim untuk selalu mendengar dan patuh dalam apa yang dia sukai ataupun yang tidak disukainya, kecuali apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat. Maka apabila dia diperintahkan untuk melakukan maksiat maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh patuh.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/470]). Demikian juga hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada ketaatan dalam rangka bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/471])
  4. Kewajiban untuk mendengar dan taat kepada pemerintah muslim ini juga dibatasiselama tidak tampak dari mereka kekufuran yang nyata. Apabila mereka melakukan kekufuran yang nyata maka wajib untuk mengingkarinya dan menyampaikan kebenaran kepada mereka. Adapun memberontak atau memeranginya -sezalim atau sefasik apapun mereka- maka tidak boleh selama dia masih muslim/tidak kafir (lihat Syarh Muslim [6/472-473], Fath al-Bari [13/11]). Dalilnya adalah hadits Ubadah bin Shamit radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kecuali apabila kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim, lihat Syarh Muslim [6/473]). al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahberkata, “Yang dimaksud dengan ‘kalian memiliki bukti kuat dari sisi Allah atas kesalahannya itu’ adalah adanya dalil tegas dari ayat atau hadits sahih yang tidak menerima ta’wil. Konsekuensinya, tidak boleh memberontak kepada mereka apabila perbuatan mereka itu masih mengandung kemungkinan ta’wil.” (Fath al-Bari[13/10]). Syaikh Ibnu Baz rahimahullah berkata, “… kecuali apabila kaum muslimin telah melihat kekafiran yang nyata yang mereka memiliki bukti kuat dari sisi Allah tentangnya, maka tidak mengapa melakukan pemberontakan kepada penguasa ini untuk menyingkirkannya dengan syarat apabila mereka mempunyai kemampuan yang memadai. Adapun apabila mereka tidak memiliki kemampuan itu maka janganlah mereka memberontak. Atau apabila terjadi pemberontakan maka -diduga kuat- akan timbul kerusakan yang lebih dominan, maka mereka tidak boleh memberontak demi memelihara kemaslahatan masyarakat luas. Hal ini berdasarkan kaidah syari’at yang telah disepakati menyatakan bahwa; ‘tidak boleh menghilangkan keburukan dengan sesuatu yang -menimbukkan akibat- lebih buruk dari keburukan semula, akan tetapi wajib menolak keburukan itu dengan sesuatu yang benar-benar bisa menyingkirkannya atau -minimal- meringankannya.’…” (al-Ma’lum Min Wajib al-’Alaqah baina al-Hakim wa al-Mahkum, hal. 9-10)
  5. Wajib bagi orang-orang yang mampu -dari kalangan ulama atau yang lainnya- untukmenasehati penguasa muslim yang melakukan penyimpangan dari hukum Allah dan Rasul-Nya. Namun hal itu -menasehati penguasa- dilakukan tanpa menyebarluaskan aib-aib mereka di muka umum. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam hadits ‘Iyadh bin bin Ghunm radhiyallahu’anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang ingin menasehati penguasa maka janganlah dia menampak hal itu secara terang-terangan/di muka umum, akan tetapi hendaknya dia memegang tangannya seraya menyendiri bersamanya -lalu menasehatinya secara sembunyi-. Apabila dia menerima nasehatnya maka itulah -yang diharapkan-, dan apabila dia tidak mau maka sesungguhnya dia telah menunaikan kewajiban dirinya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi ‘Ashim dengan sanad sahih, lihat al-Ma’lum, hal. 23, lihat juga perkataan asy-Syaukani dalam kitabnya as-Sail al-Jarar yang dikutip dalam kitab ini hal. 44).
  6. Wajibnya bersabar dalam menghadapi penguasa muslim yang zalim kepada rakyatnya. Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin/penguasa setelahku yang mengikuti petunjuk bukan dengan petunjukku dan menjalankan sunnah namun bukan sunnahku. Dan akan ada di antara mereka orang-orang yang memiliki hati laksana hati syaitan yang bersemayam di dalam raga manusia.” Maka Hudzaifah pun bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang harus kulakukan jika aku menjumpainya?” Beliau menjawab, “Kamu harus tetap mendengar dan taat kepada pemimpin itu, walaupun punggungmu harus dipukul dan hartamu diambil.Tetaplah mendengar dan taat.” (HR. Muslimlihat Syarh Muslim [6/480]). Dari Ummu Salamah radhiyallahu’anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Akan muncul para penguasa yang kalian mengenali mereka namun kalian mengingkari -kekeliruan mereka-. Barangsiapa yang mengetahuinya maka harus berlepas diri -dengan hatinya- dari kemungkaran itu. Dan barangsiapa yang mengingkarinya -minimal dengan hatinya, pent- maka dia akan selamat. Akan tetapi yang berdosa adalah orang yang meridhainya dan tetap menuruti kekeliruannya.” Mereka -para sahabat- bertanya, Apakah tidak sebaiknya kami memerangi mereka?. Maka beliau menjawab, “Jangan, selama mereka masih menjalankan sholat.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [6/485]). Faedah: an-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Di dalam hadits ini terkandung dalil yang menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu melenyapkan kemungkaran tidak berdosa semata-mata karena dia tinggal diam, akan tetapi yang berdosa adalah apabila dia meridhai kemungkaran itu atau tidak membencinya dengan hatinya, atau dia justru mengikuti kemungkarannya.” (Syarh Muslim [6/485])
Catatan Penting:
Sebagian orang terjerumus dalam kesalahan dalam menyikapi penguasa muslim yang melakukan kekeliruan. Mereka menganggap demokrasi adalah haram, bahkan termasuk kemusyrikan. Karena di dalam konsep demokrasi rakyat menjadi sumber hukum dan kekuasaan ditentukan oleh mayoritas. Di satu sisi mereka telah benar yaitu mengingkari demokrasi yang hal itu termasuk dalam bentuk kekafiran dan kemusyrikan, penjelasan lebih lengkap bisa dibaca dalam kitab Tanwir azh-Zhulumat karya Syaikh Muhammad bin Abdullah al-Imam -hafizhahullah-. Namun, di sisi lain mereka telah melakukan kekeliruan yang sangat besar yaitu serampangan dalam menjatuhkan vonis kafir kepada orang. Biasanya mereka berdalil dengan ayat (yang artinya), “Barangsiapa yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir.” (QS. al-Ma’idah: 44). Anggaplah demikian, bahwa mereka -yaitu pemerintah- telah berhukum dengan selain hukum Allah -meskipun sebenarnya pernyataan ini harus dikaji lebih dalam-, namun ada satu hal penting yang perlu diingat -dan perkara inilah yang mereka lalaikan- bahwa tidak semua orang yang berhukum dengan selain hukum Allah itu dihukumi kafir! Mereka juga berdalih dengan ucapan para ulama yang menyatakan ‘setiap orang yang berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah maka dia adalah thaghut’ (lihat al-Qaul al-Mufid [2/74]). Berdasarkan itulah mereka menyebut pemerintah negeri ini sebagai rezim thaghut dan kafir. Kemudian, sebagai imbas dari keyakinan tersebut mereka pun mencaci-maki penguasa dan menuduh orang-orang yang menyerukan ketaatan kepada penguasa sebagai kelompok penjilat -sebagaimana tuduhan itu juga ditujukan kepada saya-, bahkan mereka pun tidak segan-segan menggelari para ulama dengan julukan ulama salathin, alias kaki tangan pemerintah, Allahul musta’aan.
Maka untuk menjawab kerancuan ini -dengan memohon taufik dari Allah- berikut ini kami ringkaskan penjelasan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ketika menjelaskan isi Kitab at-Tauhid: Yang dimaksud dengan berhukum dengan selain hukum Allah yang dihukumi kafir dan murtad -sehingga layak untuk disebut sebagai thaghut- adalah dalam tiga keadaan: [1] Apabila dia meyakini bahwa berhukum dengan selain hukum Allah -yang bertentangan dengan hukum Allah- itu boleh, seperti contohnya: meyakini bahwa zina dan khamr itu halal. [2] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah itu sama saja (sama baiknya) dengan hukum Allah. [3] Apabila dia meyakini bahwa selain hukum Allah lebih bagus daripada hukum Allah. Lalu, dia bisa dihukumi zalim -yang tidak sampai kafir- apabila dia masih meyakini hukum Allah lebih bagus dan wajib diterapkan namun karena kebenciannya kepada orang yang menjadi objek hukum maka dia pun menerapkan selain hukum Allah. Demikian juga ia dikatakan fasik -yang tidak kafir- apabila dia menggunakan selain hukum Allah dengan keyakinan bahwa hukum Allah yang benar, namun dia melakukan hal itu -berhukum dengan selain hukum Allah- karena faktor dorongan hawa nafsu, suap, nepotisme dsb. Kemudian beliau juga menjelaskan bahwa tindakan orang yang mengganti syari’at dengan undang-undang buatan manusia dapat dikategorikan sebagai bentuk kekafiran akbar -yang saya dengar dari ceramah Syaikh Abdul Aziz ar-Rays beliau telah rujuk dari pendapat ini sebelum wafatnya-. Meskipun demikian, orang yang memberlakukan undang-undang ini tidak serta merta dikafirkan. Seperti misalnya, apabila dia menyangka bahwa sistem yang diberlakukannya itu tidak bertentangan dengan Islam, atau dia menyangka bahwa hal itu termasuk urusan yang diserahkan oleh Islam kepada manusia, atau dia tidak mengetahui bahwa apa yang dilakukannya itu termasuk kekafiran (lihat al-Qaul al-Mufid [2/68-69 dan 71]).
Dengan menyimak keterangan beliau di atas jelaslah bagi kita bahwa tindakan sebagian orang yang dengan mudahnya mengkafirkan penguasa negeri ini -semoga Allah membimbing mereka- serta menjuluki mereka sebagai rezim thaghut adalah sebuah tindakan serampangan dan tidak dibangun di atas ilmu yang benar. Bahkan, kalau diteliti lebih jauh ternyata mereka itu telah terjangkiti virus pemikiran Khawarij gaya baru yang menebar kekacauan berkedok jihad, subhanallah.
Did you like this? Share it:

Monday, June 8, 2015

pm xde



Mana najib....
N persoalkn pula knp najib x de kt mlysia..
Ssah jga klau mnusia yg hnya pndai up status tp x tau ape2 pon...
Knp x cri tun waktu cm niee??
Bkn kew dia lbh layak....
Najib kn x gne...
Jd minta lah mantan yg tlong handle masalah gempa bumi di sabah..
Hah ape tun tu mantan?
Laaa....bru tersedar kew yg tun tu mantan n najib tu pm??
Ngat kan najib yg mantan tun yg pm...
Mna2 pihak yg terase dri tu bgus....
Harap2 g lah hulur2 kan bantuan....
Jgn jd mcm ayam jantan....
Hnya gagah berkokok....
Tp bila di cabar utk berlawan blum tntu berani n menang.....
Hahahhahahaha hahaha

Sunday, May 31, 2015

bawa budak luar tok jahanamkan negara



BANGKITLAH UMAT!

Dalam keadaan saudara-saudara bergaduh bertekak pasal zikir joget yang Nabi s.a.w tak pernah buat, golongan cauvinis &pelampau liberalis meneruskan usaha menyesatkan umat &memporak-perandakan tanah air kita!
"Adakah pihak-pihak pembangkang di Malaysia sudah mula mengerakkan gerakan terancang untuk mengulingkan Kerajaan melalui revolusi setelah mereka gagal mengulingkan Kerajaan melalui pilihan raya dan demonstrasi jalanan?
DuBook Press, sebuah syarikat penerbitan yang berhaluan kiri yang didalangi oleh Rahmat Hussin dan Hishamuddin Rais, telah berusaha untuk membawa masuk ikon revolusi Joshua Wong ke Malaysia.
Joshua Wong adalah pengasas 'Umbrella Revolution' yang baru berumur 18 tahun dan merupakan 'Top 50 The Most Influential Leader by Time Magazine'. Beliau akan hadir pada 30hb Mei ini bersama aktivis Singapura, Han Hui Hui dan dijangkakan akan berjumpa dengan Demonstran Muda Malaysia di Bangi.
Adalah diharapkan semua NGO & gerakan Melayu-Islam akan mengambil perhatian serius mengenai perkara ini. Jangan biarkan budaya dan pengaruh asing menular dalam negara kita!
Pertama sekali, buat lapuran polis sebanyak mungkin!
Kedua adakan sidang media membantah pragram ini!
Ketiga desak KDN isytihar Joshua Wong & Han Hui Hui ini persona non grata sebagai orang tidak dikehendaki dan hendaklah dihalang masuk ke negara ini!!!
Selamat berjuang!

brim keluar lagi



Sehari dua ini kerajaan mula membayar Bantuan Rakyat 1 Malaysia atau yang sinonim dengan sebutan BR1M. Bantuan dari kerajaan yang dihina dan dicaci oleh pembangkang dan termasuk juga segelintir penyokong BN dan ahli UMNO.

Bank-bank penuh sesak dengan pelanggan BR1M. Walaupun bayaran fasa kali ini hanya antara RM200.00 hingga RM300.00 namun ramai yang tak sanggup menanti esok, lusa, tulat, bulan depan atau tahun depan. 

Yang menjatuhkan hukum duit BR1m haram mungkin ambik duit tersebut sebelah malam dengan kad ATM. Hari siang orang ramai dan berasa malu.


Mungkin ada yang kata ... "kenapa nak malu pulak ini duit rakyat?" Ini memang tanggungjawab kerajaan. Mungkin mereka lupa hanya kerajaan yang mereka keji inilah satu-satunya kerajaan yang memberi BR1M kepada rakyatnya.

Jika tidak percaya tanyakan kepada kaum Rohingya yang baru mendarat di Malaysia atau rakyat Indonesia yang mencari rezeki di sini, ada tak kerajaan mereka memberi BR1M (Bantuan Rakyat 1 Myanmar) atau BR1I (Bantuan Rakyat 1 Indonesia)?

Dari mana kerajaan dapat duit sebanyak RM1.4 billion untuk membayar BR1M? Kalau di darabkan dengan 3 kali bayaran sudah mencapai jumlah RM4.2 billion.

Jika tahun 2016 bayaran BR1M dinaikkan lagi seperti yang dijanjikan jumlahnya mungkin mencecah lebih RM9 billion. Mampukah kerajaan membayarnya? Dengan kutipan GST sudah tentu kerajaan mampu untuk membayarnya.

Oleh itu tidak perlulah riuh rendah menghina, memaki, mencaci dan mereka cipta fitnah yang berbagai-bagai. Bersyukurlah menjadi rakyat Malaysia yang nasibnya sangat baik berbanding kaum Rohingya atau rakyat-rakyat negara lain.
Kepada rakyat Malaysia yang hanya menjadi kompang kepada pembangkang terutama yang menjadi tali barut pengkhianat yang sedang bekerja keras untuk menjahanamkan orang Melayu sedarlah bahawa rakyat Malaysia masih mampu mengecapi hidup yang lebih baik berbanding rakyat negara lain.

Renung dan insafi bagaimana kehidupan rakyat Iraq, Libya, Afghanistan, Yaman, Syria dan beberapa buah negara Afrika yang kucar-kacir akibat negara yang huru-hara angkara pembangkang di negara tersebut.
Akibat termakan hasutan pembangkang lalu rakyatnya memberontak dan menjatuhkan kerajaan yang mereka anggap zalim. Namun kehidupan mereka lebih teruk berbanding semasa kerajaan yang mereka anggap zalim. Yang dikejar tak dapat yang dikendong berciciran.

Menyesal sudah tiada gunanya. Mereka akan menanggung azab sengsara sampai bila- bila sehingga negara mereka kembali aman. Tapi sampai bila?
Malaysia yang pertama kali dijajah oleh penjajah barat bermula dengan Portugis hinggalah British. Lebih 440 tahun lamanya rakyat Malaysia dijajah, hasil mahsul dirompak, bahan galian berharga diangkut ke negara mereka, rakyat diperbodohkan, rakyat dijadikan kuli sehinggalah Tanah Melayu dimerdekakan pada tahun 1957.
Mungkinkah akan berlaku penjajahan sekali lagi seperti Melayu Singapura yang dijajah oleh kaum minoriti pada masa dahulu yang datang dibawa masuk oleh British untuk bekerja dilombong-lombong.

Hari ini Melayu telah dijajah dari segi ekonomi. Yang tinggal hanyalah kuasa yang entah bila dapat dipertahankan. Mungkinkah suatu hari nanti nasib orang Melayu akan jadi seperti nasib kaum Rohingya.

Bersyukurlah!!! Allah dah janji kalau bersyukur akan ditambah-tambah rezeki yang ada.Andainya tak tahu bersyukur rezeki yang ada tak kan bertambah.Malah Allah dan beri amaran kepada manusia yang tak bersyukur,tunggulah azab Ku yang amat pedih!!!
Wallahua'lam .....

Friday, May 29, 2015

isu budak pintar berkumandang semula

Jika Bapa Adi Putra Bagi Kerjasama Dahulu, Adi Sudah Pasti Berada Di Universiti Bertaraf Ivy League - Prof. Madya Dr. Noriah






Nampaknya isu pelajar genius Malaysia ini semakin hangat diperkatakan. Ramai orang ramai terutaman pengguna laman sosial menyalahkan kerajaan sehingga mendakwa kerajaan mengambil pandang serius genius yang ada seperti Adi Putra.

Isu berkenaan Adi Putra ini pernah disiarkan oleh  portal berita terkenal mStar Online pada 3 Mac lalu yang bertajuk "Adi Putra - Genius Tak Diiktiraf". Artikel itu telah membuatkan cerita Adi Putra kembali bermain di media.

Baru-baru ini  pulak Adi Putra dikatakan membuat luahan kecewa dan dilaporkan oleh TheMalaysian Insider yang mengatakan dia disisihkan kerajaan.

Berikutan dengan luahan itu, Pengarah Permata Pintar, Professor Noriah Mohd Ishak, telah tampil memberi penjelasan keadaan yang sebenarnya berlaku di antara pihak Adi Putra dan Kerajaan.

"Kerajaan memang telah menubuhkan program untuk anak-anak genius bermula tahun 2009. Kerajaan juga melalui Bahagian PERMATA di Jabatan Perdana Menteri telah memberi dana kepada UKM untuk menubuhkan sebuah sekolah yang kini diberi taraf Institusi Pendidikan Bantuan Kerajaan untuk menyediakan pendidikan yang sesuai bagi pelajar-pelajar pintar dan berbakat seperti Adi. 

YABhg Datin Paduka Seti Rosmah Mansor adalah insan yang telah memperjuangkan hak pembelajaran pelajar pintar dan berbakat. Beliau tanpa jemu telah merancang bersama UKM untuk menyediakan program pendidikan yang untuk pelajar seperti Adi.

YABhg Datin Paduka Seri juga adalah orang yang bertanggungjawab meminta disediakan satu program untuk Adi tetapi setelah dibentangkan kepada ibu bapa Adi, bapanya menolak kerana memikirkan Adi perlu memberi tumpuan kepada sekolah sedangkan masa itu Adi sibuk dengan pengurusan syarikatnya. 

Bermula dari situ, YABhg Datin Paduka Seri Rosmah telah meminta agar pihak UKM dibawah bimbingan Tan Sri Sharifah Hapsah yang menjadi Naib Canselor waktu itu untuk meneroka kemungkinan mencari lebih ramai Adi Putra diseluruh negara. Datin Seri menekankan bahawa dalam proses pencarian tersebut, UKM perlu teliti dan mencari secara komprehensif tanpa meninggalkan mana-mana pelajar.

Maka lahirlah Ujian UKM1 dan UKM 2 yang dibina oleh sekumpulan pakar dari UKM diketui oleh Prof Datuk Dr Noriah Ishak, Prof Datin Dr Siti Rahayah Ariffin, Prof Madya Dr Rosadah Abdul Majid dan Dr Siti Fatimah Mohd. Yassin.



Pihak UKM telah bekerjasama dengan Johns Hopkins University untuk menjalankan program pengayaan untuk pelajar pintar dan berbakat pada tahun 2009. Progam tersebut telah dijalankan dengan jayanya. Seterusnya Kolej PERMATA pintar Negara, UKM telah dibina untuk menampung proses pembelajaran pelajar-pelajar pintar dan berbakat tersebut.

Sehingga kini seramai 374 orang pelajar telah berjaya menamatkan pengajian mereka di Kolej PERMATA pintar, dan seramai 240 orang sedang menyambung pengajian mereka di perkngkat Sarjanamuda di universiti terkemuka di Amerika Syarikat, United Kingdom, Australia, New Zealand, Jepun, Korea, German, Rusia, Jordan dan Mesir.

Sebenarnya kerajaan melalui Bahagian PERMATA di Jabatan Perdana Menteri telah berjaya mengurangkan isu brain drain dengan memberi pendidikan khusus untuk pelajar pintar dan berbakat.

Program PERMATApintar ini bukan program elitis seperti tanggapan orang ramai atau program yang ditujukan khas untuk anak-anak orang kaya. Kemasukan ke program ini ialah mengikut kelayakan. Sehingga kini, didapati hampir setengah dari pelajar yang mendapat tawaran adalah dari mereka yang berpendapatan rendah dan tinggal di luar bandar. Mereka diterima bukan kerana mereka dari luar bandar, tetapi mereka benar-benar layak.

YABhg Datin Paduka Seri Rosmah adalah sangat instrumental dalam menjayakan program ini bersama UKM. Sekian.

Saya rasa Adi perlu bercerita perkara yang benar berlaku dan bagaimana kerajaan dan lebih khusus YABhg Datin Paduka Seri Rosmah Mansor cuba membantu beliau dan kenapa bapanya menolak bantuan tersebut. Jika Adi terima bantuan yang kita cadangkan dulu pada tahun 2008, saya pasti Adi sekarang sudah berada di Universiti bertaraf Ivy League."

Apapun harap kedua-dua pihak dapat menyelesaikan perkara ini dengan baik, jangan disia-siakan permata yang kita ada ini. - Siakapkeli.my

Wednesday, May 27, 2015

pendapat


Old town white coffee dan secret recipe ialah franchise anak Malaysia yang berjaya. Ia telah menyumbang kepada ekonomi negara dalam bentuk cukai dan mengurangkan pengangguran. 

Nak harapkan melayu, mereka hanya banyak di ipt (hasil kuota) tapi bila grad menjadi beban kepada negara (harap nama je hebat, iq tahap engineer poli cabok) kerana mereka menjadi pencari kerja bukan penjana kerja.

Masalah timbul apabila ada yang tidak sedar diri memilih kerja yang bukan dalam tahap kepandaiannya akibatnya produk jadi seperti labu yang dibaiki tikus dan penyumbang lambakan pati mengambil tempat mereka. heee

KEDEPAN ( KEmbalikan DEgree berasaskan kePANdaian , SPM 5A degree dan guru , 3A -4A diploma , 1A -2A sijil , 0A buruh amah dan kuli am ) adil ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya.

Wednesday, May 6, 2015

hutang negara

Fakta mengenai Hutang Negara


1)Bagaimana jumlah hutang luar negara pada tahun 2013 RM196 billion boleh naik mendadak sehingga menjadi RM740 billion pada tahun 2014?



Ini kerana bermula tahun 2014 pentakrifan hutang telah berubah daripada hutang kerajaan, hutang syarikat awam, swasta dan persendirian tetapi kini dirangkumi sekali deposit dan hutang yang diambil oleh warga asing. Skop definisi hutang telah diluaskan bukan sahaja kepada Malaysia tetapi seluruh dunia.

Jika pentakrifan baru ini digunapakai pada tahun 2013 maka hutang negara pada 2013 akan menjadi RM696.6 billion.
Jadi berapakah jumlah sebenar hutang kerajaan di luar negara?

Daripada jumlah RM744.7 billion
42% = adalah deposit dan hutang warga asing

37% = hutang sektor swasta

10% = hutang syarikat awam

9% = kredit pelaburan dan jaminan

2% = hutang kerajaan pusat
Maka jawapan sebenar jumlah hutang kerajaan pusat sebanyak 2% ialah RM16.8 billion dan kadar ini masih dalam kadar yang stabil berbanding negara negara lain.

Sumber: Bank Negara Malaysia

p/s: aku pernah tanya soalan direct kat Rafizi Ramli semasa Forum 1MDB di Karangkraf.Adakah pertikaian dia mengenai keadaan hutang negara yang darurat mengikut takrifan definisi hutang yang terbaru? Dia tak jawab soalan aku. Sekian.